Kalo Gak Mau Mengembalikan, Kenapa Harus Melecehkan? (Part 1)

Hp saya baru saja ilang. Hari Jumat. Momen terakhir bersama hp tercinta (yang saya ingat) terjadi dalam angkot jurusan Kampus Dalam menuju Laladon. Ketika itu hp yang saya letakkan di kantong bagian luar tas saya, tiba2 bergetar tanda sms. Rasa enggan untuk melihat hp timbul mengingat kondisi angkot yang (sebenarnya) melebihi kapasitas mobil itu. Belum lagi jinjingan saya yang cukup banyak (satu tas cangklong yang cukup berat karena terisi laptop, payung, dll dan satu tas jinjing berisi berkas2). Ya, saya memang rempong. Keengganan saya untuk melihat hp pada kondisi itu terkalahkan oleh rasa penasaran. Sms dair siapa itu? Pentingkah?

Ternyata keengganan saya benar. Setelah dilihat, ternyata sms yang masuk ke hp saya dari provider hp. Isinya seperti biasa, iklan layanan dari provier tersebut.

Isi sms penting dari provider itu tidak saya ingat, begitu juga apa yang terjadi dengan hp saya setelah itu. Ingatan saya lenyap bersama dengan hp tercinta. Ingatan yang justru melekat justru mengenai betapa kesalnya saya karena sms yang diterima hanya iklan layanan dari provider. Menyebalkan.

Kesadaran mengenai ketiadaan hp saya muncul di angkot berikutnya (Oh ya, jadi ceritanya saya sedang dalam perjalanan menuju balai penelitian tanah di kota bersama seorang teman, dan untuk mencapai balai tersebut kami harus naik angkot 2 kali dari kampus). Awalnya saya tidak yakin bahwa hp tersebut hilang. Masih berharap bahwa hp saya entah bagaimana masuk ke kantong celana, atau entah bagaimana terselip di bagian lain tas saya. Bahkan saya tidak langsung panik dan tidak langsung memberitahu teman bahwa hp saya tidak ada di tempat semula. Sesampai di lokasi pun saya masih berdiam diri. Entah kenapa saya merasa enggan untuk memberitahukan musibah yang baru saja saya alami pada teman tersebut.

Singkat cerita (Bahasanya, pliss), saya pun akhirnya membeli hp baru seharga 250 ribu rupiah dengan tujuan agar keluarga tidak kesulitan menghubungi, dan segera memberitahu keluarga mengenai hilangnya hp saya.

Keanehan terjadi ketika saya telah membeli hp dan nomor yang baru. Saya mencoba menghubungi nomor hp saya yang lama, ternyata nomor tersebut masih aktif. Setelah beberapa kali tidak mengangkat telfon dan me-reject telfon saya, akhirnya si pemegang hp saya yang lama bersedia berbicara.

Saya minta orang itu bertemu di depan kampus dengan membawa hp saya, namun orang itu tidak bisa, dan meminta esok hari pada jam 7. Saya diminta untuk mengisi pulsa ke nomor tersebut.

Beberapa jam setelah sambungan telfon tersebut berakhir, nomor hp saya yang lama tidak lagi bisa dihubungi. Tidak aktif.

Keesokan paginya, saya menunggu hingga jam  8 lewat, namun orang yang saya tunggu (gak tau juga orangnya yang mana) tak kunjung datang, dan hp saya yang lama tidak juga aktif, sehingga saya tidak bisa menghubunginya. Okay. Saya berusaha mengikhlaskan hp tersebut.

Hari berikutnya, pagi hari, tiba2 ada sms masuk ke hp saya yang baru. Sms tersebut dari nomor hp lama saya. Isi sms minta ditelfon. Saya segera menelfon dengan harapan orang yang menemukan (atau mengambil) hp saya bersedia mengembalikan hp. Selanjtunya? Bersambung. (Takut bosen kalo kepanjangan :p )

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s